Di sebuah rumah di tengah kota, tinggallah pasangan suami istri yang baru menjalani kehidupannya sebagai seorang keluarga. Ya tak lama kemudian mereka pun dikarunia seorang gadis cantik yang bernama Putri. Walaupun ia terlahir dengan sebuah keterbatasan yaitu menderita tuna rungu, namun gadis ini tumbuh luar biasa membawa ketegaran khususnya untuk ibunya. Meskipun ia lahir dengan keterbatasan, namun hal tersebut menjadikannya sosok yang dikagumi oleh semua orang. Meskipun ia terbilang berbeda dengan anak seusianya, namun dalam dirinya begitu banyak tersimpan anugerah yang mungkin tidak orang lain dapatkan. Seorang tuna rungu yang memiliki kemampuan melukis. Apapun hasil karya lukisannya, membuat semua orang kagum dengan hasil lukisannya yang indah. Sejak Putri dilahirkan hingga sekarang, ia tidak pernah tahu wujud ayahnya. Ayahnya meninggalkannya sejak ia kecil karena ayahnya tidak bisa menerima kekurangan anaknya. Walaupun begitu kenyataannya, Putri tetap menunggu kehadiran ayahnya untuk memeluknya. Putri pun tinggal bersama ibu dan neneknya.

Kini, Putri beranjak memasuki usia sekolah. Soffi ibunya, mengajaknya untuk melihat sebuah sekolah. Namun ini berbeda dari mereka yang normal, ya….sekolah luar biasa. Sekolah dimana Putri akan menjadi bagian di dalamnya. Dengan berat hati, Ibu membawa Putri masuk. Meskipun sejak pertama melihat seluruh bagian depan sekolah Putri merasakan hal yang tidak biasa, namun Ibunnya tidak pernah bosan untuk memberikan pengertian kepadanya. Setelah melalui berbagai proses kegiatan belajar, akhirnya Putri resmi menyelesaikan beberapa tahap pendidikannya di sekolah itu. Beberapa tahapan belajar berhasil diraihnya, bahkan meraih predikat nilai terbaik di sekolahnya. Guru di sekolahpun heran dan bangga dibuatnya. Kemampuannya jauh lebih berkembang dibandingkan anak-anak lainnya, hingga setara dengan kemampuan anak-anak normal di luar sana. Gurunya pun menyarankan ibu Putri untuk mencoba berfikir memindahkan Putri ke sekolah biasa atau SMA anak normal pada umumnya.

Tentunya dengan saran tersebut membuat ibunya berpikir ulang untuk benar-benar melihat prestasi yang diraih Putri di sekolah dan mendengarkan saran dari guru tersebut. Namun berpindahnya Putri tidak serta membuat ibu dan neneknya senang, mereka justru merasa khawatir. Mereka takut jika Putri tidak bisa beradaptasi bahkan tidak diterima di lingkungan barunya.

Ya… hari pertama untuk melangkahkan kaki di sekolah baru pun tiba. Putri tak pernah lupa pesan neneknya yang selalu mengingatkannya untuk membawa pena dan note kecil yang diselipkan dikantongnya agar memudahkannya untuk berkomunikasi dengan orang lain. Gurunya memperkenalkan Putri di kelasnya yang baru. Ada beberapa teman barunya yang bisa menerimanya hadir di kelas, namun kebanyakan dari mereka merasa tidak senang atas hadirnya Putri di kelas. Putri duduk sebangku dengan teman yang menerimanya dengan baik yang bernama Fina. Fina merupakan gadis lugu dan cupu yang juga jadi bahan ledekan teman-teman di kelasnya.

Jam istirahat sekolah pun tiba, Putri diajak Fina untuk jajan di kantin sekolah. Saat mereka berjalan melalui lorong sekolah, tiba-tiba Putri terjatuh dihalangi oleh teman sekelasnya yang bernama Lora, Mira, dan Riska. (Lora, Mira, dan Riska adalah teman sekelas Putri yang merupakan genk terkenal berkuasa di kelas).

“Heii… gadis tuna rungu, lo itu gak pantes ada di sekolah ini”, ucap Mira.

“Iya.. ini itu sekolah bagus, bukan sekolah luar biasa”, Lora dan Riska menambahkan.

Fina mencoba menghentikannya dan membawa Putri pergi dari tempat itu. Fina mencoba menenangkan Putri dan membuatnya semangat.

Sepulangnya sekolah, Ibu dan Nenek Putri menanyakan kesan Putri berada di sekolah baru. Putri pun menutupinya dengan wajah yang berseri-seri, dan semangan menceritakan teman serta sekolah barunya.

Hari demi hari dilalui Putri di sekolah barunya, selembar pengumuman di mading sekolah pun menarik perhatian banyak siswa sekolah. Ya… pengumuman lomba melukis, yang berhadiah beasiswa yang diberikan oleh seorang donatur. Putri pun berantusias untuk mengikuti lomba tersebut. Tak dilewatkan juga oleh Mira dan teman-temannya untuk mengikuti lomba tersebut.

Saat dimana lomba diadakan pun tiba, Mira dan teman-temannya memiliki siasat untuk mangerjai Putri agar tidak bisa mengikuti perlombaan. Sebelum memulai perlombaan, Putri pergi sebentar ke toilet, situasi tersebut dimanfaatkan oleh Mira dan teman-temannya untuk mengerjai Putri dengan mengunci pintu luar toilet. Perlombaan pun segera dimulai, semua peserta telah bersiap-siap menempati posisinya. Fina temannya Putri khawatir melihat Putri belum hadir saat perlombaan akan dimulai. Fina menelusuri sekolah dan mencari kebradaan Putri. Suara tangis dan teriakan terdengar dari toilet, Fina langsung mendatangi toilet dan mendengar ternyata yang berada di dalam toilet tersebut adalah Putri. Fina pun mencoba mencari cara untuk segera membukakan pintu toilet tersebut.

Waktu tetap berjalan, Fina membawa Putri untuk segera ke ruangan tempat acara perlombaan dilaksanakan. Panitia mempersilahkan Putri untuk tetap mengikuti perlombaan dengan sisa waktu 30 menit. Semua peserta diminta untuk melukis gambar sesuai tema yang telah ditentukan. Juri yang hadir adalah donatur yang akan memberikan beasiswa tersebut yang bernama Pak Herman. Waktu berlangsungnya perlombaan pun telah usai, semua peserta mengumpulkan hasil karya lukisannya. Sekian banyak lukisan yang bagus, namun hanya ada satu lukisan yang membuat Pak Herman kagum dengan lukisan seindah itu, yang tak lain ialah lukisan Putri. Juri mengumumkan hasil pemenang lomba akan di umumkan pada acara kelulusan sekolah.

Tak henti-hentinya Mira, Lora, dan Riska selalu mengerjai Putri. Mereka membawa Putri kegudang belakang sekolah dan mengikat Putri di kursi. Mereka semua mencoret-coret wajah Putri dengan lipstik dan mengacak-acak rambut Putri. Putri sulit untuk melakukan pemberontakan karena posis tangan dan kakinya yang terikat, Putri hanya bisa menangis. Setelah mereka puas mengerjai Putri, Putri dibiarkan untuk keluar dari gudang tersebut. Teman-teman satu sekolah menertawai Putri, melihat wajah dan rambut Putri yang berantakan. Fina temannya Putri tidak membiarkan semua orang menertawai Putri, salah seorang teman sekelas putri yang bernama Aryo datang menghampiri Putri dan berteriak kepada semua orang untuk diam dan tidak menertawakan Putri. Putri pun dibawa oleh Fina ke toilet untuk membersihkan dirinya. Aryo sudah menduga kalau semua itu adalah perbuatan Mira, Lora, dan Riska. Namun, Mira dan teman-temannya mengeles bahwa merekalah yang mengerjai Putri. Aryo pun memberi peringatan kepada Mira dan teman-temannya untuk berhenti memperlakukan Putri seperti itu.

Putri pulang sekolah dengan wajah yang tidak ceria. Ibu dan nenek Putri langsung bertanya kenapa wajah Putri terlihat murung. Putri tidak mau menceritakan apa yang terjadi di sekolah dan menutupi kejadian apa yang telah dilakukan teman-temannya yang tidak suka kepadanya. Putri hanya menceritakan bahwa ia telah memiliki sahabat yang bernama Fina, yang selalu baik kepadanya dan selalu ada untuknya, serta teman laki-laki yang baru saja menolongnya yang bernama Aryo.

Di suatu malam, Putri sempat menanyakan kepada ibunya tentang keberadaan ayahnya selama ini. Ibunya dengan berat hati hanya menjelaskan bahwa sejak Putri kecil, ayahnya pergi bekerja di luar kota dan sampai sekarang tidak kembali lagi. Ibunya pun mengatakan tidak mengetahui alasan kenapa ayahnya tidak kembali pulang. Ibunya selalu memberi pengertian kepada Putri untuk tidak membenci ayahnya. Begitupun dengan nenek Putri yang selalu menyayangi Putri, dan selalu memberikan semangat kepada Putri untuk menjadi seorang gadis yang kuat dan pemberani.

Ujian kelulusan sudah seminggu lagi, Putri pun selalu belajar dengan penuh semangat. Tak disangka, Fina dan Aryo datang ke rumah Putri. Mereka datang untuk mengajak belajar bersama. Meskipun Putri seorang gadis tuna rungu, Fina dan Aryo selalu mengerti keadaan Putri dan mereka pun mengerti bahasa tubuh yang diutarakan oleh Putri. Putri merasa sangat senang karena masih ada teman yang mau menerimanya diantara teman-teman lain yang mengejeknya. Hampir tiap malam Fina dan Aryo datang ke rumah Putri untuk belajar bersama. Ibu dan nenek Putri sangat senang dengan adanya teman Putri yang berkunjung ke rumahnya.

Bel sekolah berbunyi, tanda ujian sekolah akan di mulai. Putri telah mempersiapkan diri dengan baik. Ujian pun dimulai, Putri, Fina dan Aryo mengerjakannya dengan serius dan sungguh-sungguh. Mira, Lora, dan Riska berusaha melakukan kecurangan dengan menyontek menggunakan selembar kertas yang dilempar bergantian. Guru di kelasnya mengawasi siswa agar tidak melakukan kecurangan. Dengan sengaja Mira menjatuhkan kertas contekan itu dibawah kursi Putri, dan tanpa sengaja Aryo pun melihat kejadian tersebut. Guru pun datang menghampiri Putri dan mengambil kertas yang berada di bawah Putri. Ia menanyakan apakah kertas tersebut milik Putri, dan apakah Putri melakukan tindakan kecurangan. Aryo melihat hal itu, tidak tinggal diam, ia berusaha menjelaskan kepada guru bahwa Mira dan teman-temannyalah yang melakukan kecurangan tersebut. Mira berusaha mengelak, namun temannya yang lain sudah terlihat gugup ketakutan. Mira, Lora, dan Riska langsung dibawa ke ruang kepala sekolah untuk mengakui perbuatannya dan mengulangi mengerjakan soal ujiannya di ruang kepala sekolah. Putri tidak mengerti kenapa mereka begitu benci dan jahat kepadanya, sedangkan Putri tidak pernah melakukan kesalahan kepadanya.

Suasana sekolah pun ramai, acara kelulusan sekolah pun dilaksanakan, seluruh siswa hadir ke sekolah bersama dengan orangtuanya. Putri datang ke sekolah ditemani dengan ibu dan neneknya. Dalam sambutan Kepala Sekolah, Kepala Sekolah pun juga mengumumkan siswa berprestasi yang mendapatkan nilai ujian tertinggi di sekolah, dan siswa tersebut adalah Putri. Ibu dan nenek Putri merasa bangga kepada Putri. Kepala Sekolah pun juga mengumumkan pemenang dari perlombaan melukis dan nama Putri pun disebutkan kembali. Putri diminta untuk memberi sambutan di panggung, walaupun banyak orang yang tidak mengerti apa yang dikatakan Putri, namun Putri merasa sangat senang dan berterima kasih kepada Ibu dan Neneknya yang selalu mendukungnya. Hadiah pemenang lomba pun diberikan oleh Pak Herman (seorang donatur yang memberikan hadiah berupa beasiswa). Pak Herman sangat bangga kepada Putri, selain ia memiliki kemampuan melukis, ia juga memiliki prestasi yang luar biasa. Ibu dan nenek Putri kaget melihat pria yang berada di atas panggung bersama Putri adalah ayah kandung Putri. Putri langsung berlari menuruni panggung dan menuju tempat ibunya. Tak tersadar air matanya pun mengalir saat memeluk erat ibunya. Pak Herman melihat ternyata ibunya Putri adalah istrinya yang sejak dahulu ditinggalnya.

Pak Herman merasa sangat menyesal atas apa yang telah dilakukannya selama ini. Suatu hari ia mencoba untuk menemui ibu Putri dan meminta maaf atas perbuatannya, serta mengaku menyesal. Pak Herman mengatakan bahwa ia sudah berusaha mencari Putri dan ibunya, namun ternyata mereka telah pindah rumah, dan Pak Herman tidak menemui alamat barunya tersebut. Dengan berat hati, ibunya Putri memaafkan suaminya yang telah lama meninggalkannya. Mereka berdua datang kepada Putri dan mencoba menjelaskan apa yang terjadi. Awalnya Putri menolak jika Pak Herman itu adalah ayahnya, namun dengan pengertian ibu dan neneknya, Putri pun berusaha menerima jika Pak Herman adalah ayahnya. Mereka pun melanjutkan hidup dengan bahagia.

5 tahun kemudian, Putri berhasil membuka usaha restorannya sendiri karena berhasilnya pameran lukisan yang diadakan oleh Putri. Aryo teman dikelas dulu, tanpa disengaja datang ke restoran milik Putri. Aryo terpesona melihat penampilan Putri yang berubah menjadi lebih cantik. Mereka berdua pun bernostalgia, dan menceritakan kabar Fina yang mengikuti orangtuanya tinggal di luar kota. Putri percaya mereka yang terlahir dengan kekurangan sepertinya di dunia ini adalah mereka yang bahagia karena keterbatasannya.

Pelajaran yang berharga juga bisa kita temukan dalam cerita ini. Tidak sedikit yang merasa aneh ketika Putri menghabiskan separuh waktunya di sekolah itu. Hanya ada Fina, sahabat yang selalu setia menemani hari-hari penuh cerita seorang Putri, dan Aryo yang membuat hidup Putri menjadi lebih berwarna. Bagaimana kalau kita yang ada di posisi Putri? Sedih bukan? Hanya ada beberapa teman, dari ribuan teman yang mau menemani. Antara harus senang atau sedih yang selalu Putri rasakan ketika menginjakkan kaki di sekolah itu. Mira, Lora dan Riska, mereka adalah perubah senyum manis Putri menjadi butiran air mata. Hanya karena keterbatasan, Mira dan teman-temannya dengan sinisnya selalu saja membuat Putri tersiksa. Dihina, dicaci, dilukai baik secara fisik maupun psikisnya. Tetapi, Putri tetap bertahan dengan kuat, tegar dan berani menghadapinya. Sampai-sampai membuat lawannya itu terheran-heran bahkan bisa mengalahkan kemampuan Mira baik dalam pelajaran maupun seni melukis. Berkat kemampuan Putri dalam melukis, mengantarkannya kepada kesuksesan yang saat ini diraihnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *