Mental health awareness atau kesadaran akan pentingnya kesehatan mental kelihatannya makin meningkat dari hari ke hari. Hal ini salah satunya dipicu oleh semakin banyaknya akun psikoedukasi, buku dan film beken dengan tema yang bersinggungan sama kesehatan mental, sampai kesadaran orang-orang sendiri buat lebih banyak mencari tahu soal pentingnya kesehatan mental. Kamu termasuk salah satunya?

Sayangnya, peningkatan awareness ini juga dibarengi sama beberapa salah kaprah (baca soal salah kaprah definisi sehat mental di sini). Semua itu di antaranya disebabkan karena ada hal-hal yang luput jadi perhatian sebelum baca, nonton, atau terpapar hal-hal yang berhubungan sama (misalnya) gangguan psikologis dan dampaknya—salah satu yang merupakan ‘materi’ buat meningkatkan mental health awareness. Apa aja, sih, hal-hal yang luput dari perhatian? Yuk, lihat bahasan berikut ini.

Yang Salah Kaprah dan yang Luput dari Perhatian Soal Mental Health Awareness

Katakanlah kamu lagi ada dalam keadaan cemas soal masa depan. Hari-harimu nggak tenang dan rasanya produktivitas menurun. Sering overthinking, tiba-tiba sedih, bahkan hopeless sama masa depan. Kemudian, gara-gara kamu pernah baca soal depresi dan tanda-tandanya, kamu self-diagnose bahwa kamu depresi. Padahal, ada ‘syarat’ lain sebelum seseorang bisa didiagnosis depresi, dan itupun cuma bisa dilakukan sama profesional.

Bukan satu-dua orang yang dengan mudahnya melakukan self-diagnose, melainkan banyak banget, dan salah satu alasan simpelnya adalah; mereka bahkan mungkin belum tahu apa yang benar-benar lagi mereka rasakan. Termasuk, apa yang terjadi di usia perkembangan mereka, atau apa yang masih ‘wajar’ dan ‘nggak wajar’. Membaca dan mencoba memahami soal kesehatan mental termasuk gangguan-gangguannya tentu bagus buat menambah pengetahuan, tapi jelas bukan untuk self-diagnose.

Gambar: Freepik

Selain self-diagnose, ada kalanya ‘healing’ dan ‘self-reward’ pun jadi alasan buat melakukan hal-hal yang justru kurang bagus buat kamu lakukan. Tujuan awalnya adalah membina kesehatan mental, tapi kemudian diikuti sama perilaku seperti impulsive buying, atau jalan-jalan dan santai-santai sampai lupa waktu dan tanggung jawab. Padahal; that’s not it. Dalam kajian yang dilakukan oleh ilmuwan, healing melibatkan proses untuk menjadi ‘utuh’ kembali (Firth dkk., 2015). Ada perubahan sebagai hasil dari pemulihan. Dari yang tadinya tenggelam dalam distres, menderita, kesakitan, jadi kembali utuh dengan berhasil mengatasi ataupun menghadapinya dengan baik. Ini adalah konsep yang berbeda dari taking a break alias rehat sejenak.

Radarmu mungkin makin sensitif soal pentingnya kesehatan mental, sampai melupakan poin penting bahwa manusia punya dinamika emosi yang memang di waktu-waktu tertentu bisa lebih ekstrem dari yang biasa dirasakan. Itu dia kenapa selain soal gangguan, mempelajari perkembangan psikologis manusia juga penting dalam hal meningkatkan mental health awareness. Kamu akan tahu fase-fase apa aja yang dilalui manusia selama masa perkembangan, berikut emosi-emosi yang menyertainya. Dengan begitu nggak akan ada lagi salah paham bahwa cemas dan sedih di masa quarter-life crisis itu pasti depresi, capek mental itu mesti healing dan self-reward nggak berkesudahan, dan seterusnya.

Memulai untuk Lebih Paham sama Diri Sendiri

Tahu dan paham soal serba-serbi kesehatan mental itu penting, dan sama pentingnya dengan terlebih dulu tahu dan paham soal diri sendiri. Selalu ada konteks dalam pembahasan mengenai kesehatan mental. Aware sama pentingnya kesehatan perlu dibarengi sama pemahaman akan kondisi kamu sebagai manusia dengan beragam dinamikanya. Supaya nggak jadi kebiasaan buat duluan ‘nge-judge’ kondisi mental sendiri, perhatiin catatan-catatan ini, ya!

  1. Kesehatan mental sebaiknya nggak diromantisasi.
  2. Jadilah lebih aware sama kondisi diri dengan cari tahu juga soal perkembangan manusia secara umum.
  3. Sharing sesekali sama teman sebaya soal apa yang lagi mereka alami dan rasakan.
  4. Konsultasi sama peer counselor.
Gambar: Freepik

Kita semua toh masih sama-sama belajar dan berusaha memahami diri sendiri ataupun meningkatkan mental health awareness, jadi jangan lupa buat saling mengingatkan kalau dirasa perlu. Melalui itu, pintu ilmu bisa terbuka juga dan sedikit demi sedikit kita bisa lebih paham soal kehidupan.

Referensi:

Firth, K., Smith, K., Sakallaris, B. R., Bellanti, D. M., Crawford, C., & Avant, K. C. (2015). Healing, a Concept Analysis. Global advances in health and medicine4(6), 44–50. https://doi.org/10.7453/gahmj.2015.056

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.