Kalau terus-terusan jadi pihak yang memberi, bisa-bisa habis, ya, kepunyaan kita? Tapi, percaya nggak, sih, bahwa selain sebenarnya bisa membuka pintu rezeki lain, memberi dan bersedekah itu membawa dampak baik bagi mental kamu? Simak penjelasan berikut ini, yuk!

Keajaiban dari Memberi

Melalui serangkaian penelitian berbasis eksperimen yang dilakukan oleh Aknin, Broesch, dan Van de Vondervoort (2015), diperoleh kesimpulan bahwa perilaku memberi, baik itu bersifat ‘merugikan’ (membuat pelakunya harus merelakan sesuatu yang dimiliki) ataupun tidak, menimbulkan rasa bahagia yang lebih besar dibanding saat menerima. Karena memberi itulah, seseorang menerima reward emosional—seolah mereka baru saja mendapatkan alih-alih kehilangan sesuatu.

Cami Walker, seorang penulis buku best seller di awal 2000-an, 29 Gifts: How A Month of Giving Can Change Your Life, berpendapat bahwa semakin sering kita memberi, semakin meningkatlah kesadaran kita akan setiap hal yang kita terima dan miliki. Beliau pun telah mencobanya sendiri melalui upayanya memberi sesuatu ke orang lain selama 29 hari berturut-turut, bahwa hal itu membuatnya lebih banyak tersenyum dan tertawa, bahagia, sehat, kreatif, dan punya hubungan yang lebih baik dengan orang di sekitar.

Itulah sedikit gambaran ‘keajaiban’ dari memberi. Kira-kira, cukupkah untuk bikin kamu jadi lebih terdorong untuk memberi dan berbagi?

Sedekah dan Spiritualitas

Sedekah adalah istilah lain dari memberi. Lebih tepatnya, memberi sebagian dari hartamu kepada orang lain khususnya yang membutuhkan. Pada dasarnya ini hanyalah perbedaan istilah di mana sedekah identik dengan umat Muslim karena merupakan serapan dari bahasa Arab ‘shadaqoh’. Sebab itulah istilah ini berkaitan erat dengan spiritualitas.

Spiritualitas berupa kepercayaan pada Tuhan dapat menjadi motif (dorongan) untuk berbagi. Dibarengi pula dengan empati dan altruisme. Orang yang punya dorongan tinggi untuk bersedekah adalah tanda bahwa ia punya kecerdasan spiritual dan emosional yang tinggi (e.g. Zamzami dalam Nurjannah, 2018). Lebih lanjut, perilaku prososial seperti sedekah ini pada akhirnya berdampak baik bagi kesejahteraan psikologis (psychological well-being) (Setyawati dalam Nurjannah, 2018).

Melatih Diri Lebih Peka terhadap Sekitar

Di samping semua ‘keajaiban’ tadi, memberi ataupun bersedekah perlu dilakukan dengan niat yang benar. Alias, bukan dengan mengharap balasan apalagi dengan jumlah tertentu. Untuk itu latihlah kepekaan sosialmu. Niscaya, kamu bakal terdorong buat terus-menerus berbagi kepada orang lain, sekecil apapun itu, dengan niat sebaik-baiknya. Dirangkum dari beberapa sumber, berikut di antara cara untuk melatih kepekaan sosial.

  1. Minta maaf kalau berbuat salah dan memaafkan orang lain.
  2. Menjadi pendengar bagi orang lain.
  3. Membaca atau menonton dan merefleksikan kisah-kisah kehidupan.
  4. Mencoba terlibat dalam berbagai kegiatan sosial.
  5. Belajar memperhatikan hal-hal kecil di sekitar.

Kamu juga bisa merasakan sendiri manfaat dari memberi, berbagi, bersedekah, atau dengan apa pun kamu menyebutnya. Perbuatan ini bermanfaat bagi kedua pihak, yaitu yang memberi maupun yang menerima. Luruskan niat, dan kamu bisa buktikan sendiri bahagianya.

Referensi:

Aknin, L., Broesch, T., & Hamlin, J. K., & Van de Vondervoort, J. (2015). Prosocial behavior leads to happiness in a small-scale rural society. Journal of Experimental Psychology General, 144(4), 788-795. 10.1037/xge0000082.

Nurjannah, N. (2018). Psikologi spiritual zakat dan sedekah. Istinbath17(1), 179-197. 10.20414/ijhi.v17i1.40

https://www.psychologytoday.com/intl/blog/get-your-give/200908/the-giving-return

Leave a Reply

Your email address will not be published.