Sering nggak, sih, ngelihat orang-orang menyombongkan kekayaannya terang-terangan atau secara nggak langsung? Apalagi sekarang ada media sosial, timeline bisa jadi wadah buat flexing. Menganggap orang lain pamer atau nggak sebenarnya adalah soal persepsi, tapi perilaku pamer atau menyombongkan kepunyaan ini, sebenarnya dipicu sama hal apa, sih?

Flexing adalah istilah gaul yang berarti menyombongkan diri atau pamer, baik itu keadaan fisik, barang kepemilikan, atau hal lain yang dirasa superior dibanding orang lain. Menurut psikologi, kecenderungan memamerkan beragam hal kayak gini disebabkan beberapa alasan. Nah, dirangkum dari berbagai sumber, berikut di antaranya.

1. Menimbulkan Perasaan Senang

Para psikolog di Harvard, sebagaimana disadur dari laman Australian Institute of Professional Counsellors, pernah mempertanyakan seberapa menyenangkan aktivitas berbagi pengalaman/sharing itu. Setelah dilakukan serangkaian penelitian yang melibatkan pemeriksaan aktivitas otak, ditemukan kalau aktivitas berbagi pengalaman/sharing mengaktifkan bagian otak yang sama dengan saat seseorang makan atau melakukan seks. Sharing pengalaman memberikan sensasi senang seperti yang dipicu hormon dopamin. Ketika subjek penelitian diharuskan bercakap-cakap soal diri mereka sendiri, otak bereaksi seolah mendapat penghargaan (reward).

Gambar: freepik.com

Media sosial kemudian hadir dan memfasilitasi keinginan berbagi. Beberapa orang yang flexing di media sosial merasakan kesenangan dari hal itu. Selain dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan oleh psikolog Harvard tadi, flexing juga disebut dipicu oleh pikiran bahwa orang lain terkesan sama apa yang dipamerkan.

2. Kesenjangan Empati

Gambar: freepik.com

Masih di penelitian yang sama, ditemukan lagi hasil lainnya. Para subjek penelitian diminta menuliskan kisah hidupnya sedemikian rupa supaya terasa menarik bagi yang membaca, tapi ketika hasilnya dinilai oleh pembaca, terdapat ketidaksesuaian; subjek yang menulis merasa itu sudah menarik sementara yang membaca nggak demikian. Rupanya, isi tulisan yang dibuat cenderung berisi menyombongkan kepunyaan dan di sinilah yang disebut para peneliti sebagai kesenjangan empati (empathy gap), yang mewakili soal sulitnya seorang individu menempatkan diri di posisi orang lain.

3. Butuh Pengakuan

Gambar: freepik.com

Dilansir dari klikdokter.com, psikolog Ikhsan Bella Persada menyebutkan kemungkinan bahwa orang yang flexing itu ingin diterima sama orang-orang di sekitarnya. Untuk itu mereka berusaha menunjukkan hal-hal yang ‘wah’, sehingga dipikirnya akan diikuti pengakuan dan penerimaan.

4. Proyeksi Rasa Insecure

Gambar: freepik.com

Bagai ungkapan ‘syirik tanda tak mampu’, flexing juga bisa disebabkan ‘ketidakmampuan’. Pamer kekayaan, misalnya, rupanya sering kali merupakan wujud rasa insecure. Ada suatu hal yang bikin mereka insecure, dan untuk melawan perasaan itu mereka menyombong. Ini mirip seperti apa yang dijelaskan dalam teori kepribadian Alfred Adler soal superioritas dan inferioritas; orang yang merasa ‘lebih’ dari orang lain bisa jadi adalah mereka yang sebenarnya inferior.

Selain sebab-sebab di atas, flexing bisa aja dilakukan dengan alasan lain—sebagai strategi marketing, misalnya. Nggak bisa dibenarkan juga untuk nge-judge orang lain sharing karena tujuan flexing. Lebih baik tetap merespon sekenanya.

Tapi terlepas dari pembahasan soal flexing dan alasan di baliknya ini, sharing kehidupan pribadi nggak ada salahnya, kok. Selama nggak dilakukan dengan niat buruk dan tetap pada porsinya, sah-sah aja mendapat kesenangan dari berbagi. Apa kamu juga termasuk tipe yang senang berbagi momen ke orang lain?

Referensi:

https://www.aipc.net.au/ezine/template/4229
https://m.klikdokter.com/info-sehat/read/3654747/kata-psikolog-soal-fenomena-flexing-perilaku-pamer-kekayaan

Leave a Reply

Your email address will not be published.