INFJ omongannya pedes kalau marah!

INFP empati banget orangnya, sampe suka lupa sama diri sendiri.

Tes MBTI jadi salah satu acuan jenis kepribadian yang paling populer belakangan ini. ‘Review MBTI’ cukup sering wara-wiri di media sosial buat iseng-iseng menjabarkan gimana si ENFP, INTJ, ISFP, ENTP, dan tipe-tipe kepribadian MBTI lainnya berperilaku sehari-hari berdasarkan pengalaman pribadi. Seringnya, review ini beneran relate sama orang-orang.

Tapi, di samping serunya bahas MBTI, kamu perlu tahu, lho, kalau MBTI bukan satu-satunya acuan kepribadian. Jadi kalau ada hasil MBTI yang kamu rasa nggak sepenuhnya sesuai sama diri kamu, nggak perlu terlalu dipusingin! Semua balik lagi ke diri masing-masing. Nah, kita bahas sedikit, yuk, soal dasar teori MBTI dan kegunaannya di kehidupan sehari-hari.

Sejarah MBTI, Fungsi, dan Manfaatnya

Sesuai namanya, MBTI (Myers-Briggs Type Indicator) merupakan tes kepribadian yang dikembangkan oleh Katharine Cook Briggs dan putrinya, Isabel Briggs Myers. Tes MBTI berisi daftar pernyataan-pernyataan yang akan membedakan kepribadian orang berdasarkan preferensi psikologis. Preferensi yang dimaksud yaitu berfokus ke dalam atau ke luar diri, informasi sensoris atau membuat interpretasi, memutuskan berdasarkan logika atau situasi, serta punya nilai sendiri atau terbuka terhadap informasi/perubahan. Preferensi ini kemudian dikelompokkan dengan nama introversion atau extraversion (I/E), sensing atau intuiting (S/N), thinking atau feeling (T/F), serta judging atau perceiving (J/P) yang berasal dari teori tipologi kepribadian Carl G. Jung.

Awalnya, Katharine Briggs mengembangkan pembagian tipe kepribadiannya sendiri. Tapi setelah membaca buku karya Carl G. Jung, dimulailah penyempurnaan pembagian kepribadian manusia dari yang sebelumnya. Teori tipologi kepribadian Jung kemudian jadi acuan pengembangan MBTI. Briggs Type Indicator Handbook akhirnya terbit di tahun 1944 dan berganti sebutan jadi Myers-Briggs Type Indicator pada 1956.

MBTI, khususnya di Indonesia, cukup luas dipakai sebagai tes kepribadian bahkan dasar penentuan minat dan bakat dengan tambahan interpretasi dari ahli. Selain karena fungsi itu, melalui MBTI terutama dengan memahami maknanya, pemahaman akan diri sendiri, orang lain, kemampuan komunikasi hingga problem-solving bisa meningkat. Hal-hal kayak gini yang boleh jadi bikin tes MBTI cukup populer.

Meski begitu, sekali lagi, MBTI hanya salah satu dari banyak cara mengetahui kepribadian. Kalau ada kalanya deskripsi dari hasil MBTI-mu nggak sepenuhnya kamu rasa sesuai, ada dua kemungkinan; kurang maksimalnya situasi-kondisi waktu pengisian tes, atau kamu cuma perlu nyari jalan lain buat tahu kepribadianmu. Sebab ada beberapa alasan kenapa kamu boleh nggak menjadikan MBTI sebagai acuan kepribadianmu sendiri.

MBTI Nggak Selalu Akurat?

Kata kuncinya adalah, kepribadian itu ibarat berada di garis kontinum. Misalnya, di garis preferensi antara intraversion-extraversion, makin ke kiri berarti makin introver,  makin ke kanan makin ekstrover. Hasil MBTI-mu bisa aja selalu bilang kalau kamu ekstrover meski udah berkali-kali tes, padahal kamu merasa kebiasaanmu sehari-hari lebih mirip seorang introver. Ternyata, kamu berada nyaris di tengah-tengah, tapi punya kencederungan sedikit lebih banyak ke arah ekstrover.

Tapi, tes MBTI memang mendapat beberapa kritik dari beberapa peneliti soal validitas dan reliabilitasnya. Hasil MBTI seseorang bahkan disebut bisa berubah-ubah terutama kalau kondisi waktu mengisi tesnya juga berbeda. Begitu juga dengan tes-tes lain yang punya kekurangan dan kelebihannya sendiri.

Itu dia kenapa satu tes kepribadian aja belum tentu langsung menggambarkan diri kamu sepenuhnya. Sebuah tes psikologi biasanya didampingi juga sama tes lain, baru kemudian diinterpretasikan oleh ahli dan dibuat kesimpulannya. Jadi nggak salah juga, kok, kalau kamu sedikit-banyak merasa nggak cocok sama hasil MBTI-mu. Kalau mau buat sekadar gambaran soal diri sendiri, pastikan aja kamu mengisi tesnya sebaik mungkin.

Cara Make Sure Hasil MBTI Sesuai sama Diri Sendiri

Nah, buat memastikan hasil tes MBTI-mu itu benar-benar menggambarkan diri kamu, ada tips-tipsnya, nih:

  • Pastikan kamu mengisi tes dalam kondisi sehat wal afiat, sadar sesadar-sadarnya, dan di situasi yang tenang tanpa gangguan. Kondisi prima kayak gini tentunya bikin pikiran lebih jernih dan kamu bisa memilih di antara pernyataan-pernyataan yang ada dengan sebaik-baiknya.
  • Isi sesuai apa yang benar-benar kamu rasa sesuai sama diri kamu, tanpa mikirin apa yang baik menurut temen, kakak, mama, papa, tante, om, atau siapapun. Faktanya, semua orang berbeda termasuk kamu. Pokoknya isi sejujur-jujurnya!
  • Pakai tes yang sudah diadaptasi ke bahasa sehari-harimu alias bahasa Indonesia. Walaupun kamu jago banget bahasa Inggrisnya, mengisi tes kepribadian selalu disarankan buat memakai yang terjemahannya, salah satunya buat menghindari salah kaprah terhadap pernyataan di dalam tes, dan karena ‘diadaptasi’ berarti udah disesuaikan dengan negara di mana tes bakal digunakan.
  • Pastikan penyedia tes adalah sumber yang terpercaya.

Selain memastikan hal-hal di atas, kamu juga perlu yakin kalau kamu paham sama diri kamu sendiri. Soalnya, kalau kamu sendiri masih bingung, gimana tes MBTI yang isinya hanya pernyataan-pernyataan bisa menunjukkan kepribadian kamu? Aware sama diri sendiri, eksplor banyak hal, dan sedikit demi sedikit kamu bakal makin paham, deh, sama diri sendiri. Btw, apa hasil MBTI-mu udah sesuai sama diri kamu?

Referensi:

https://www.myersbriggs.org/my-mbti-personality-type/mbti-basics/
https://www.psychologytoday.com/us/basics/myers-briggs

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.